Li Wei berbalik dan memeriksa. Saat dia mendekati suatu area, tubuhnya menabrak sesuatu seperti dinding tak terlihat. Tangannya meraba-raba, dan dia menyadari ada perisai energi yang menghalanginya keluar dari tempat tersebut.

Dengan perasaan curiga, Li Wei mencoba mengerahkan kekuatannya untuk menerobos, namun tubuhnya terpental. "Kenapa guru membuat formasi seperti ini? Apakah ada bahaya? Apa yang terjadi? Formasi apakah ini? Aku tidak pernah mendengar para guru membahasnya."

Li Wei tidak berani mencoba menerobos lagi. Dia tidak memahami tujuan pelindung tersebut dibuat, dan dia tidak ingin merusaknya.

Ketika tiba di lapangan, dia melihat ribuan murid Sekte Api Langit berbaris. Namun, yang membuatnya kaget adalah pemandangan Ling Mei terikat di tiang, wajahnya pucat dan kesakitan. "Kak Ling Mei!" teriaknya. Li Wei merasa tidak terima melihat Ling Mei yang sedang keracunan diperlakukan demikian. Dia segera berlari ke arah Ling Mei, namun pria yang berdiri di dekatnya menghalangi dan menendang perut Li Wei dengan keras, membuatnya terlempar.

Tubuh Li Wei meluncur ke belakang, terkena tendangan yang sangat kuat. Salah seorang guru bergerak cepat menangkapnya sebelum tubuhnya membentur para murid lainnya.

"Guru..." Li Wei berusaha berkata-kata, namun tubuhnya terasa remuk dan lemas. Darah mengalir dari sela bibirnya.

"Diamlah, duduk dan atur energimu untuk memulihkan tubuhmu," kata guru tersebut. Dia duduk di belakang Li Wei dan menyalurkan Qi untuk membantunya menyembuhkan luka-lukanya.

Pria tua yang duduk di samping ketua sekte berdiri perlahan. Aura yang terpancar dari tubuhnya begitu menakutkan, seolah mengisap cahaya di sekitarnya. Para tetua dan guru-guru terlihat menahan amarah mereka, tangan mereka mengenggam kencang hingga buku-buku jari mereka memutih. Suasana tegang menggantung di udara, seperti senar yang siap putus kapan saja.

"Zhao Xinyue," ucap pria tua itu, suaranya dingin dan menusuk seperti pisau es. "Kamu lihat! Kalian semua, termasuk murid-muridmu, kini sudah terjebak dalam formasi ini. Aku bisa membunuh mereka kapan pun aku mau. Serahkan kunci itu sekarang, atau aku akan menghabisi mereka satu per satu—seperti ini!"

Sebelum kata-katanya benar-benar habis, pria tua itu mengeluarkan pukulan jarak jauh. Energi gelap melesat dari tangannya, menghantam lima orang murid yang berdiri di barisan depan. Tubuh mereka terlempar ke belakang, tak bernyawa dalam sekejap. Di samping mereka, seorang guru melompat untuk mencoba menghalangi pukulan itu, tetapi dia kalah cepat. Guru itu terdiam, wajahnya pucat pasi, matanya penuh kekecewaan karena gagal melindungi murid-muridnya. Suasana pun menjadi kacau, keributan melanda di antara para murid yang panik.

Huang Jian, wakil ketua Sekte Api Langit, segera maju ke depan. Dengan suara yang menggelegar, dia berteriak, mengerahkan kekuatan Qi-nya untuk meredakan kekacauan. "Semua diam! Siapa pun yang tidak menurut, akan menerima hukuman berat!"

Suasana seketika menjadi hening. Para murid terdiam, bukan karena ancaman dari Huang Jian, melainkan karena mereka mengenali suara itu. Itu adalah suara Tetua Huang, salah satu tetua sekte yang sangat mereka hormati. Meski rasa penasaran dan ketakutan masih membara di hati mereka, para murid yang terlatih dengan disiplin tinggi segera bisa mengendalikan diri. Mereka percaya bahwa dengan kehadiran tetua Huang, segala masalah yang terjadi akan segera mendapatkan penjelasan.

Tetua Xie Lian, sebagai seorang wanita yang pemberani dan tidak suka melihat ketidakadilan akhirnya tidak tahan lagi. Matanya yang biasanya tenang kini menyala dengan amarah yang membara. Tubuhnya gemetar, energi Qi-nya mengalir deras seperti sungai yang meluap. Ranah grandmaster langit-nya terbuka sepenuhnya, menciptakan tekanan yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Dia melangkah maju, ingin menyerang pria tua yang sudah membunuh para murid Sekte Api Langit. Namun, sebelum dia bisa bergerak, Huang Jian melompat ke depan, menghalangi jalannya.

"Xie Lian, jangan bertindak bodoh!" teriak Huang Jian, tangannya terentang. Wajahnya penuh konflik, matanya menatap Xie Lian dengan campuran kesedihan dan ketegasan.

Xie Lian mengerang, amarahnya memuncak. "Huang Jian, kau benar-benar sampah! Kau berkhianat pada sekte ini, pada kita semua! Dan sekarang kau berani menghalangiku?!"

"Apa pengkhianat? Apa maksud tetua Xie?" terdengar bisik-bisik dari para murid Sekte Api Langit yang menunggu penjelasan atas kematian rekan-rekan mereka.

Huang Jian menghela napas, wajahnya berubah sedih. "Xie Lian, kau tidak mengerti. Selama ini, aku selalu berada di bawah bayang-bayang ketua sekte. Aku lelah menjadi bawahan ketua yang tidak memiliki ambisi padahal memiliki barang yang di incar oleh banyak orang. Akulah yang pantas memimpin Sekte Api Langit!"

Xie Lian meludah ke tanah, matanya penuh penghinaan. "Pantas memimpin? Dengan cara berkhianat dan bersekongkol dengan musuh? Kau penyebab terbunuhnya wakil ketua Ling Juan. Kau hanya sampah yang tidak tahu diri! Aku bersyukur karena tidak pernah menerima lamaranmu. Dulu kau mengaku mencintai sekte ini dengan seluruh jiwamu, tapi sekarang kau membunuh murid-murid kita sendiri. Kau tidak layak disebut wakil tetua!"

"Apa wakil ketua terbunuh?" para murid tidak percaya dengan pendengaran mereka, namun melihat reaksi para tetua dan guru yang  menahan marah membuat mereka mulai mempercayai dan mengetahui masalah yang terjadi bukanlah masalah kecil.

"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa tetua Huang mengkhianati kita?" kata murid lainnya.

"Guru, benarkah kata tetua Xie?" tanya Li Wei ke guru yang sedang menyalurkan qi ke untuk membantu mengobati luka dalamnya.

"Tenanglah, fokuslah untuk mengobati lukamu dan berusahalah mencari cara untuk meloloskan diri. Aku yakin mereka tidak akan melepaskan kita semua." bisik guru tersebut.

"Guru, aku memiliki rencana. Tolong bantulah! Aku yakin hanya dia yang bisa membantu kita." kata Li Wei berbisik agar tidak di dengar oleh orang-orang yang menyerang sekte mereka. Dia berusaha meminta bantuan guru tersebut untuk dapat merobek kertas yang ada di balik pakaian Ling Mei, karena hanya itu solusi untuk mereka saat ini.

Huang Jian yang mendengarkan mengerutkan kening, wajahnya berubah sedih sejenak sebelum kembali dingin. "Cinta? Kau selalu menolakku, Xie Lian. Kau selalu memandangku dengan sebelah mata. Tapi lihatlah sekarang—aku punya kekuatan untuk mengambil apa yang kuinginkan, termasuk kepemimpinan sekte ini!"

Para guru dan tetua merasa geram ingin maju, namum mereka masih mengkhawatirkan keselamatan para murid dan ketua sekte sehingga mereka berusaha menahan diri. Selain itu mereka bisa merasakan meski maju bersama, kekuatan mereka tidak akan mampu menghadapi pria tua misterius didepan mereka.

Tetua Xie Lian tidak tahan lagi. Matanya yang biasanya tenang kini menyala dengan amarah yang membara. "Huang Jian, kau benar-benar sampah!" teriaknya, suaranya menggema penuh kebencian. Tubuhnya melesat ke depan, energi Qi-nya mengalir deras seperti sungai yang meluap. Ranah grandmaster langit-nya terbuka sepenuhnya, menciptakan tekanan yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Tangannya menggerakkan energi spiritual, membentuk sembilan cakar api yang menghujam ke arah Huang Jian.

Huang Jian, yang juga berada di ranah grandmaster langit, segera membalas. Dia mengeluarkan energi spiritualnya, membentuk perisai yang kokoh. Sembilan cakar api itu menghantam perisainya, menciptakan ledakan energi yang mengguncang area sekitarnya. "Xie Lian, kau masih sama seperti dulu, terlalu emosional," ucapnya, suaranya datar namun terdengar goyah. Meski begitu, matanya menatap Xie Lian dengan konflik yang dalam.

"Kau pikir aku akan diam melihatmu berkhianat seperti ini?!" Xie Lian menggeram, tubuhnya berputar dengan cepat dan bersiap menyerang lagi. Ranah grandmaster langit-nya semakin menguat, menciptakan sayap api raksasa di belakangnya. Sayap itu menghantam Huang Jian dengan kekuatan yang menghancurkan. Huang Jian mencoba menahan, tetapi serangan itu terlalu kuat. Dia terjatuh, darah mengalir dari sudut mulutnya.

"Kau lemah, Huang Jian!" teriak Xie Lian, tubuhnya melesat ke depan untuk memberikan serangan terakhir. Namun, Huang Jian tiba-tiba tersenyum. Dia mengeluarkan energi spiritual gelap yang melingkari tubuh Xie Lian, mengunci gerakannya.

"Aku lemah? Itu karena aku tidak ingin menyakitimu. Menyerahlah dan bergabunglah bersamaku," ucap Huang Jian, suaranya pelan namun penuh kekuatan. Tangannya memancarkan energi spiritual mengunci tubuh Xie Lian .

